Monday, May 11, 2009

Review Film 13 - The Other Boleyn Girl

Review Film XIII - The Other Boleyn Girl (Natalie Portman, Eric Bana, Scarlett Johansson, Jim Sturgess, Kristin Scott Thomas)

Penilaian : 6,5/10

Nonton di Cempaka Asri XXI - Solo, tanggalnya lupa

Tag Line : The only thing that could come between these sisters... is a kingdom

Sinopsis :

Menceritakan dua kakak beradik cewek yang berasal dari keluarga yang biasa saja, yaitu Anne Boleyn (Natalie Portman - V For Vendetta, Closer) and Mary Boleyn (Scarlett Johansson - The Nanny Diaries, Lost In Translation). Sementara itu Sir Thomas Boleyn (Mark Rylance -Intimacy), ayah kedua gadis itu menginginkan kehidupan yang lebih layak. Dengan dibantu Thomas Howard : Duke of Norfolk (David Morrisey - Basic Instinct 2, Derailed) adiknya, Sir Thomas Boleyn kemudian mengatur siasat agar salah satu dari Boleyn bersaudara dapat menjadi keluarga istana. Walaupun sesungguhnya istri dari Sir Thomas Boleyn, yaitu Lady Elizabeth Boleyn (Kristin Scott Thomas - The Golden Compass, The Horse Whisperer) tidak menyetujuinya.

Sir Thomas Boleyn dibantu dengan adiknya, kemudian berusaha mengambil hati Raja Henry Tudor (Eric Bana - Troy, Hulk), dengan menyodor-nyodorkan Mary dan Anne. Mary yang semula ragu-ragu dan tidak tertarik dengan rencana ayah dan pamannya malah berhasil menjadi selir sang raja. Dari Mary, Raja Henry Tudor mendapatkan 2 orang anak. Lama kelamaan, Mary akhirnya mencintai sang raja setulus hatinya walaupun ia hanya seorang selir saja.

Sebaliknya Anne yang gagal merebut hati sang raja mulai menyusun strategi untuk menggeser Mary saudaranya. Anne bukan cuma ingin menjadi selir sang raja. Ia ingin menjadi ratu Inggris menggeser posisi istri resmi Henry VIII.

Misi Anne akhirnya menjadi kenyataan, namun disamping itu pula dia harus merasakan HUKUM KARMA dari apa yang pernah dia perbuat, bahkan adik laki-lakinya yaitu George Boleyn (Jim Sturgess - 21, Across The Universe) harus juga menerima hukuman atas kesalahan yang tidak diperbuat George.

Film ber-setting kerajaan Inggris abad 16 ini disadur dari novel karya penulis Inggris Philippa Gregory dengan judul yang sama. Walaupun film ini sudah mulai masa produksi di akhir tahun 2006, namun baru awal 2008 film ini diedarkan oleh Columbia Pictures.


Review :
Meski film ini dibuat berdasarkan kisah nyata yang terjadi di Inggris pada abad keenam belas namun tak seluruh kisah yang digambarkan di sini adalah kisah nyata. Malah bisa dibilang bahwa film ini lebih menyorot sisi pribadi dari ketiga tokoh utama ketimbang pada sisi historisnya.

Yang cukup aneh di sini adalah pemilihan para pemeran utama yang semuanya bukan orang Inggris. Natalie Portman dan Scarlett Johansson adalah artis Amerika sementara Eric Bana yang memerankan Raja Henry Tudor justru adalah aktor asal Australia. Meski tak terlalu jadi masalah, namun urusan logat mau tak mau sedikit mengganggu juga sehingga sang aktor dan aktris tak bisa sepenuhnya konsentrasi pada urusan akting.

Untungnya dalam film ini ketiga pemeran utama ini bermain dengan cukup bagus meski sebenarnya Natalie Portman yang lebih terlihat menonjol di antara para pemain yang lain. Yang patut disayangkan justru adalah jalinan emosi antara ketiga tokoh yang terlibat cinta segi tiga berlatar belakang politik yang seolah tak terbentuk dengan baik dan ditambah lagi dengan alur ceritanya yang sedikit lambat, sehingga mungkin sedikit membuat ngantuk.

Ide cerita ini mungkin terasa lebih mantap saat berbentuk novel tapi malah terasa 'kering' saat dituangkan ke bentuk film. Saat menonton film ini ada kesan seolah kita sedang menonton film serial televisi atau sinetron dan bukannya film layar lebar. Bisa jadi ini karena lebih banyaknya adegan dialog ketimbang adegan visual pada film berdurasi sekitar 115 menit ini.

Untungnya, dari sisi visual, film ini cukup menarik untuk dilihat. Efek pewarnaan terasa pas dengan kostum yang dikenakan para pemain sehingga sangat memanjakan mata saat melihatnya. Ini juga tak lepas dari penggabungan antara lokasi syuting dan studio set yang terlihat sangat alami sehingga penonton seolah dibawa ke Inggris di abad keenam belas.

Akhirnya secara keseluruhan pada intinya bukan termasuk film ringan yang bisa dijadikan hiburan ringan pelepas rasa jenuh, namun jika menyukai film dengan alur yang lambat mungkin film ini cocok untuk ditonton. ya kalau sekedar untuk ditonton di rumah, boleh lah
Akhirnya, menurut penilaian gue film ini cukup.
Sekian dulu, semoga bisa menjadi bahan pertimbangan untuk menonton.
See You Next Movies Review !!
Kalo ada komentar, dipersilahkan !!!