Tuesday, June 23, 2009

Review Film 17 - Ip Man (mandarin)

Review Film XVII - Ip Man (Donnie Yen, Simon Yam, Hiroyuki Ikeuchi)


Penilaian : 7,5/10

Nonton di DVD


Tag Line : The celebrated Kung Fu master of Bruce Lee.



Sinopsis :

Menceritakan seorang laki laki dengan 1 orang istri dan 1 orang anak yang bernama Ip Man. Dia mulai mempelajari Wing Chun atau salah satu cabang ilmu bela diri kung fu sejak ia berusia 13 tahun. Kecintaannya pada ilmu bela diri ini membuatnya rela berkorban banyak demi mengembangkan ilmu bela diri ini. Setelah lama mempelajari Wing Chun, Ip Man memutuskan untuk membuka perguruan sendiri.

Banyak orang yang sempat berguru pada master Wing Chun yang satu ini dan beberapa di antara muridnya kemudian menjadi terkenal meski nama Ip Man sendiri jarang dikenal orang. Salah satu murid Ip Man yang banyak dikenal adalah Bruce Lee yang sempat berguru pada Ip Man selama 5 tahun, dan hal tersebut diceritakan pada akhir film.

Film ini menceritakan tentang perjalanan hidup Ip Man (Donnie Yen – SPL/Sa Po Lang, Dragon Tiger Gate, Seven Swords), yang ahli ilmu bela diri, karena itu juga banyak mendapatkan tantangan dari jago-jago bela diri lain yang penasaran ingin menguji ilmu Ip Man, salah satunya Ji Shan Zhao (Fan Shiu Wong – Connected, Flying Dragon Leaping Tiger). Namun semuanya mampu ditaklukkan dengan mudah oleh Ip Man.

Cerita berlanjut dengan tentara Jepang yang menguasai daratan China, dan menyebabkan rakyat China banyak yang sulit mencari makanan, termasuk juga Ip Man. Sampai demi mendapatkan makanan warga China harus bertarung dulu dengan para ahli bela diri Jepang, dan jika menang baru lah mendapatkan makanan. Karena melihat ada seorang warga China yang disiksa oleh tentara Jepang itu lah, memaksa Ip Man harus kembali menunjukkan keahliannya untuk bela diri. Salah orang Jendral Jepang yang bernama Miura (Hiroyuki Ikeuchi – Handsome Suit, The Code) pun sangat terkesan, dan mengajaknya untuk bertarung. Walau atas nama pribadi, namun harga diri bangsa China dan Jepang dipertaruhkan dalam pertarungan itu. Apakah Ip Man dapat mengalahkan Jendral Miura?Atau malah Ip Man malah harus menebus nyawanya dalam pertarungan tersebut?

Review :

Film ini memang diadaptasi dari kisah nyata kehidupan (true story) sang master Wing Chun ini. Sang sutradara, Wilson Yip (Flashpoint, Dragon Tiger Gate), memutuskan untuk lebih memfokuskan film ini pada penjajahan Jepang di China sekitar tahun 30-an dan menyoroti bagaimana Ip Man yang sangat mencintai negerinya menolak mengajarkan Wing Chun pada tentara Jepang saat itu, dan memang Donnie Yen adalah aktor Favorit yang sering bekerjasama dengannya, jadi memang terlihat sangat kompak.

Meski film ini diambil dari kisah nyata, namun ada beberapa bumbu-bumbu penyedap, yang sedikit menyelewengkan dari sejarah yang dimaksudkan guna membuat film akan lebih menarik, dengan aksi-aksi bela diri yang mantap. Dari sedikit polesan pada film ini menghasilkan film dengan aksi bela diri yang cukup mendominasi film ini, namun ada kelemahan dimana Ip Man sebagai tokoh protagonist digambarkan terlalu sempurna dan ilmu bela diri-nya sangat tinggi, sehingga tidak ada yang mampu mengalahkannya kecuali senjata api…

Di sisi lain, film ini juga memiliki nilai lebih karena menggambarkan seni bela diri Wing Chun dengan sangat realistis. Beberapa prinsip dasar bela diri ini tetap dipegang kuat pada setiap koreografi tarung sehingga film ini terlihat realistis namun di saat yang sama juga terlihat 'beda' dari kebanyakan film bela diri Mandarin, karena berani menyajikan pertarungan jarak dekat yang biasanya dihindari film bela diri.

Untuk pemeran film ini, acting Donnie Yen tidak lah diragukan lagi, Donnie yang bernama Mandarin Chen Che Tan sangat mantap menjadi jago bela diri kelas wahid. Ada 4 film yang menurut saya cukup berkesan, yaitu : Iron Monkey (bermain sebagai Wong Kei Ying - ayah Wong Fei Hung), Once Upon A Time in China 2 (berperan sebagai Jendral Lan antagonis musuh Wong Fei Hung yang diperankan oleh Jet Lee), SPL/Sa Po Lang (sebagai Inspektur Ma Kwun yang bertarung habis-habisan dengan Wong Po yang diperankan oleh Samo Hung) dan yang terakhir serial Fist of Fury (sebagai Chen Chen).

Sedangkan untuk aktor lain yang bermain baik adalah Simon Yam, yang berperan sebagai Zhou Qing Quan - pemilik pabrik yang selalu ditindas. Simon pernah juga bermain dengan Donnie dalam SPL/Sa Po Lang dan pernah menjadi tokoh antagonis lawan Angelina Jolie dalam Lara Croft:Tomb Raider 2 : The Cradle of Life.

Film ini cukup sukses dan kabarnya sudah siap beredar lanjutannya yaitu Ip Man 2

Akhirnya secara keseluruhan menurut penilaian saya Cukup Baik, sebagai pembanding boleh lah dibandingkan dengan film-nya Jet Lee - Fearless.

Sekian dulu, semoga bisa menjadi bahan pertimbangan untuk menonton.

See You Next Movies Review !!
Kalo ada komentar, dipersilahkan !!!

Friday, June 12, 2009

Review Film 18 - Terminator Salvation


Review Film XVIII - Terminator Salvation (Christian Bale, Sam Worthington, Anton Yelchin, Helena Bonham Carter, Michael Ironside, Bryce Dallas Howard)

Penilaian : 7,7/10

Nonton di Grand Mall 21 Studio 1 Jam 21.05 hari Rabu tanggal 17 Mei 2009

Tag Line : The End Begins



Sinopsis :

Film ini menceritakan perjuangan John Connor (Christian Bale - The Dark Knight, The Prestige) - dalam Terminator 2 : Judgement Day (rilis tahun 1991) diperankan oleh Edward Furlong (The Crow : Wicked Prayer, Cool World) dan dalam Terminator 3 : Rise of the Machines (rilis tahun 2003) diperankan oleh Nick Stahl (Sin City, The Thin Red Line) - dalam memimpin sisa-sisa manusia yang memberontak terhadap Skynet dan pasukan Terminator-nya yang akan mengakibatkan terjadinya Judgement Day. John didampingi oleh istrinya Kate Connor (Bryce Dallas Howard - The Village, Spiderman 3) - dalam Terminator 3 : Rise of the Machines yang masih bernama Kate Brewster diperankan oleh Claire Danes (The Flock, Stardust) - dan juga bersama bersama para kaum Resistance kemudian merencanakan untuk menghancurkan Skynet dalam usaha mengembalikan manusia sebagai pemimpin di muka bumi.

Dalam persiapan penghancuran Skynet inilah kemudian muncul seorang pria bernama Marcus Wright (Sam Worthington - The Great Raid, Roque), yang ada Marcus kehilangan ingatannya dan tak tahu dari mana ia berasal. Yang ada dalam ingatannya hanyalah saat dirinya berada dalam eksekusi. Sebenarnya Marcus adalah manusia yang telah diubah menjadi robot setelah ia sendiri dieksekusi satu tahun sebelumnya, dengan fitur manusia namun badannya sudah menjadi robot semua.

Di saat yang hampir bersamaan dengan rencana kaum Resistance untuk meruntuhkan Skynet, para robot ternyata juga punya rencana untuk membunuh para pemimpin Resistance. Nama John Connor sudah pasti ada di dalam daftar Skynet namun John hanya menjadi prioritas kedua untuk dibunuh. Dan kagetnya John, bahwa yang menjadi prioritas pertama dibunuh justru seorang pembrontak yang tidak diduga-duga, yang bernama Kyle Reese (Anton Yelchin - Star Trek, Middle of Nowhere). Tapi setelah dipikirkan lebih lanjut barulah John sadar, karena jika Kyle tidak dapat diselamatkan, maka seorang John Connor tidak akan ada di muka bumi. Karena Kyle Reese itu adalah Ayah dari John Connor.

Sepak terjang Kyle Reese dapat kita liat dalam Terminator (rilis 1984) yang diperankan oleh Michael Biehn (Navy Seals, Cherry Falls) yang mati-matian melindungi ibu dari John Connor yaitu Sarah Connor (Linda Hamilton - Terminator 2 : Judgement Day, Dante's Peak) dari kejaran The Terminator versi Pertama yang diperankan oleh Arnold Schwarzenegger (True Lies, Total Recall), walau Kyle harus mengorbankan dirinya namun Sarah dan bayi dalam kandungannya itu John dapat diselamatkan.

Review :

Satu lagi film sequel yang sayang jika dilewatkan, Terminator Salvation yang merupakan sequel keempat dari film Teminator (1984), yang dilanjutkan dengan Terminator 2 : Judgement Day dan terakhir Terminator 3 : Rise of the Machine.

Terlihat bahwa sineas Amerika memang mampu merangkai adanya korelasi antara keempat film tersebut, maka diyakini bila para pemerhati film pun mampu dengan mudah untuk mengerti cerita sequel keempat film Terminator ini, apalagi jika yang sudah menggemari serialnya.

Jadi kalau soal cerita tidak usah diragukan lagi, tingkat ketegangannya pun sama dengan serial Terminator sebelumnya.

Untuk akting para pemeran utamanya, menurut gue koq aktingnya Christian Bale yang memerankan John Connor kok kesannya biasa-biasa aja ya, bahkan aktingnya kalah mentereng kalo dibandingkan dengan aktingnya dari Sam Worthington yang memerankan Marcus Wright atau bahkan dari Anton Yelchin yang memerankan Kyle Reese. Beda seperti waktu Bale memerankan Bruce Wayne/Batman dalam The Dark Knight yang aktingnya terlihat begitu meyakinkan walaupun tetap tergilas oleh akting meyakinkan dari almarhum Heath Ledger yang berperan sebagai Joker. Rupanya Bale sempat ragu untuk bekerja sama dengan sutradara film ini yaitu McG (Charlie's Angels, Charlie's Angels : Full Throttle), walaupun akhirnya jadi bekerjasama tidak jelas apakah hal ini yang mempengaruhi akting Bale.

Dan tak lupa juga untuk pemeran wanitanya Bryce Dallas Howard dan Helena Bonham Carter pun tidak begitu diberikan porsi yang lebih, hanya seadanya saja.

Untuk penggemar Arnold Schwarzenegger, yang tidak bisa dipungkiri adalah icon utama dari Terminator, bisa dilihat ada terminator yang menyerupai wajahnya dan bertarung melawan John Connor serta Marcus Wright, namun gue ngga bisa dapetin informasi apakah itu Arnold yang numpang lewat (cameo) atau hanya tiruannya saja.

Tapi secara keseluruhan dari keempat film Terminator ini lebih kelam gelap dari film-film sebelumnya, ya mungkin pengaruh sutradara cukup besar dalam memberikan kesana atas film ini.

Akhirnya secara keseluruhan pada intinya bukan termasuk film blockbuster yang lumayan cukup wajib anda tonton, apalagi jika anda selalu mengikuti film-film Terminator sebelumnya. Dan bukan tidak mungkin akan ada lanjutan Terminator selanjutnya.

Akhirnya, menurut penilaian gue film ini bagus
Sekian dulu, semoga bisa menjadi bahan pertimbangan untuk menonton.
See You Next Movies Review !! Kalo ada komentar, dipersilahkan !!

Wednesday, May 20, 2009

Review Film 16 - The Happening


Review Film XVI - The Happening (Mark Wahlberg, Zoey Deschanel,John Leguizamo)

Penilaian : 4,5/10

Nonton di Cempaka Asri XXI - Solo, hari Selasa tanggal 19 Mei 2009

Tag Line : We've Sensed It. We've Seen The Signs. Now... It's Happening.



Sinopsis :

Film ini menceritakan virus aneh yang menyebar lewat udara menyerang kota Philadelphia. Tak ada yang bisa lolos dari serbuan virus aneh ini. Korban telah berjatuhan di banyak tempat. Virus aneh ini membawa dampak buruk buat manusia. Yang tertular virus ini akan melakukan bunuh diri bahkan tanpa sebab yang jelas.

Elliot Moore (Mark Wahlberg - Max Payne, Shooter) seorang guru ilmu pengetahuan alam berusaha membawa istrinya Alma (Zooey Deschanel - Yes Man, The Assassination of Jesse James by Coward Robert Ford) mencoba melarikan diri dari wabah yang belum jelas asal-usulnya itu. Dengan mengendarai mobil menuju luar kota, Elliot berharap selamat dari wabah itu. Atau setidaknya untuk sementara waktu.

Tidak ada yang tahu pasti seberapa jauh virus itu telah menyebar, dan masih adakah tempat yang aman untuk berlindung dari serbuan virus ganas tersebut. Bahkan pihak berwenang pun tidak mengetahui asal muasal virus ini dan bagaimana cara bekerjanya.


Review :

Semenjak sukses di film Sixth Sense, sutradara M Night Shyamalan memang sering menggali topik-topik yang tidak umum. Film-film karyanya cenderung membuat penonton berpikir keras akan pesan yang ingin disampaikan sang sutradara. Film ini juga bukan pengecualian. Tapi kesan horor di film ini, keliatannya kurang menarik untuk di simak.

Beberapa detail dari film ini justru membuat orang semakin bingung dan tak mengerti jalan cerita dari film ini. Entah karena kesengajaan atau karena kesalahan memasukkan detail yang malah tak bisa dijawab oleh ending cerita, yang tidak ada juntrungan akhir cerita film ini

Mungkin ada berharap Shyamalan mampu membuat film brilian seperti Sixth Sense yang sanggup menipu penontonnya. Namun jika dibandingkan dengan film ini, menurut saya malah lebih parah akhirnya daripada Lady In The Water atau The Village.

Demikian pula untuk akting para pemain filmnya, Mark Wahlberg ternyata tidak mampu untuk mengangkat film ini secara keseluruhan dan sangat disayangkan koq mau bermain dalam film yang kurang menonjolkan aktingnya. Bahkan untuk dialog-dialognya pun tidak berkesan natural malah kesannya seperti dibuat-buat. Entah karena Mark Wahlberg yang tak mampu menghayati naskah atau sang sutradara yang tak bisa mengarahkan aktor dan aktris dalam membawakan dialog tersebut. Para pemeran yang lain seperti Zooey Deschanel ataupun John Leguizamo (Righteous Kill, Trilogi Ice Age) -pun juga benar-benar biasa sekali aktingnya.

Akhirnya film ini tak jauh beda dengan The Village atau Lady In The Water yang mengecewakan, atau mungkin lebih mengecewakan malah . Mungkin dibutuhkan waktu lebih lama untuk mencerna dan memahami cara berpikir M Night Shyamalan agar bisa menikmati film ini.

Akhirnya secara keseluruhan film ini menurut penilaian saya Buruk, bahkan untuk ditonton di rumah-pun akan sulit sekali memahami film ini.
Sekian dulu, semoga bisa menjadi bahan pertimbangan untuk menonton.
See You Next Movies Review !!
Kalo ada komentar, dipersilahkan !!!

Review Film 15 - Angels and Demons


Review Film XV - Angels and Demons (Tom Hanks, Ewan McGregor, Ayelet Zurer,Stellan Skarsgard, Armin Mueller Stahl)

Penilaian : 8,5/10

Nonton di Empire XXI Jogyakarta Studio 1 Jam 17.45 hari Minggu tanggal 17 Mei 2009

Tag Line : The holiest event of our time. Perfect for their return



Sinopsis :

Cerita diawali dengan berpulangnya Paus dikarenakan sakit, yang cukup membuat kota Vatikan menjadi heboh. Kehebohan berlanjut dengan diculiknya 4 kardinal yang menjadi kandidat pengganti Paus oleh sekelompok orang yang tidak bertanggungjawab.

Pada saat yang sama Leonardo Vetra, salah seorang ilmuwan yang bekerja di CERN, (Conseil Europeen pour la Recherche Nucleaire) terbunuh, di dadanya terlihat sebuah tanda yang mengarah pada sebuah persaudaraan yang diduga telah musnah. Kematian yang tak wajar ini membuat para ilmuwan di CERN terpaksa harus menghubungi pakar simbol Robert Langdon (Tom Hanks - Forrest Gump, Sleepless in Seattle)

Langdon yang semula tak percaya bahwa persaudaraan Illuminati ini masih ada mau tak mau harus menerima kenyataan karena tak ada orang yang sanggup membuat tanda ambigram sempurna yang menjadi simbol Illuminati kecuali dari persaudaraan rahasia ini sendiri.

Petualangan kemudian membawa Langdon dan Vittoria Vetra (Ayelet Zurer - Vantage Point, Munich) yang ingin mengetahui pembunuh ayahnya ke Vatican di mana persaudaraan Illuminati mengancam akan meledakkan kota suci ini dan membunuh semua orang di dalamnya. Satu-satunya cara melacak si pembunuh adalah dengan mencegah atas pembunuhan 4 orang kardinal yang telah diculik atau paling mengikuti tanda-tanda yang ditinggalkan sang anggota Illuminati setelah membunuh kardinal tersebut, dengan harapan dapat mencegah pembunuhan massal ini.

Sayangnya sang pembunuh hanya meninggalkan petunjuk di atas mayat para Kardinal yang telah ia bunuh satu per satu. Kini Langdon dan Vetra harus berpacu untuk mendahului sang pembunuh atau semua Kardinal yang diculik mati dan tak ada petunjuk mengenai lokasi peledak yang dipasang persaudaraan Illuminati ini.

Apakah Langdon dapat menyelamatkan para kardinal tersebut sekaligus memecahkan teka-teki yang ada dibalik penculikan tersebut? Paling tidak menyelamatkan 1 orang kardinal saja, agar ada penerus tahta Paus. Di samping itu juga banyak konflik yang ada di Vatikan, di antaranya yang melibatkan Camerlengo Patrick McKenna (yang diperankan secara brilian oleh Ewan McGregor - Trainspotting, Star Wars Trilogy Prequel), Cardinal Strauss (Armin Mueller Stahl - The International, Eastern Promises) dan Commander Richter (Stellan Skaarsgard - Mamma Mia !, Pirates of the Carribbean : At Worlds End)

Review :

Seperti kebanyakan film yang diadaptasi dari novel, prekuel dari The Davinci Code ini terdapat beberapa penyesuaian mesti dilakukan karena keterbatasan durasi tayang dan lain sebagainya. Ini yang sering kali membuat para fans novel merasa kecewa dengan visualisasi dari tulisan yang sempat mereka baca sebelumnya. Film ini juga bukan pengecualian. Bila Anda sempat membaca novelnya, Anda pasti tahu bahwa ada beberapa fakta atau detail yang harus 'disesuaikan'. Terlepas dari segala 'penyesuaian' itu, film adalah sebuah karya yang layak dinilai sebagai dirinya sendiri.

Sebagai sebuah film, Angels and Demons ini cukup mampu membawa inti permasalahan dari novel ke dalam bentuk visual. Ron Howard (The Davinci Code, A Beautiful Mind) sebagai sutradara sanggup membuat sebuah film yang cukup berimbang dan tak memihak mana pun. Agama dan ilmu pengetahuan dapat berjalan beriringan selama ada saling pengertian dan toleransi.

Karena keterbatasan waktu juga maka film ini jadi terasa bertempo sangat cepat. Tak ada waktu untuk menarik nafas atau beristirahat sejenak. Ini tak bisa dihindari juga karena versi novelnya juga punya tempo yang lumayan cepat meski masih ada titik-titik di mana kita diberi waktu untuk sekedar menghela nafas.

Tampilan visual dari Sistine Chapel, Pantheon, Gereja dan Makam terlihat sangat mengagumkan meski Howard harus melakukan pengambilan gambar bukan di tempat aslinya. Sebuah tontonan yang menarik selama Anda tak membanding-bandingkannya dengan versi novelnya.

Sementara untuk akting, Tom Hanks memang menunjukkan kalau dia memang mempunyai reputasi tersendiri untuk perannya sebagai Robert Langdon, walau kesannya Langdon itu jenius sekali mampu menyelesaikan segala teka teki yang ada dengan waktu yang terbatas dan cukup cepat. Dan yang paling mencuri perhatian adalah Ewan McGregor, aktingnya begitu bagus. Bagus dalam arti brilian sebagai orang yang kurang dianggap lalu mencuat menjadi penyelamat vatikan, namun pada akhir cerita yang tidak terduga justru malah menjadi pecundang.

Akhirnya secara keseluruhan film ini lebih baik dari The Davinci Code, layak tonton !!!
Akhirnya, menurut penilaian gue film ini Bagus.
Sekian dulu, semoga bisa menjadi bahan pertimbangan untuk menonton.
See You Next Movies Review !!
Kalo ada komentar, dipersilahkan !!!

Tuesday, May 12, 2009

Review Film 14 - Defiance


Review Film XIV - Defiance (Daniel Craig, Liev Schreiber, Jamie Bell, George MacKay)

Penilaian : 6,5/10

Nonton di Cempaka Asri XXI - Solo, tanggalnya lupa

Tag Line : Freedom begins with an act of defiance!



Sinopsis :
Menceritakan tentang empat bersaudara Bielski: Tuvia Bielski (Daniel Craig - Quantum of Solace, The Golden Compass), Zus Bielski (Liev Schreiber - The Painted Fail, The Manchurian Candidate), Asael Bielski (Jamie Bell - Jumper, Kingkong) dan Aron Bielski (George MacKay - Peterpan) berhasil lolos dari pembantaian Nazi meski mereka harus merelakan kedua orang tua mereka dibantai pasukan ganas dari Jerman ini.

Mereka lantas bersembunyi di hutan dan bersumpah untuk membalas kematian kedua orang tua mereka. Di dalam hutan, Bielski bersaudara bertemu dengan para pengungsi Yahudi lain yang juga bersembunyi dari kejaran Nazi. Waktu berlalu dan kelompok kecil yang dipimpin Bielski bersaudara ini pun mulai menjadi besar dan makin bertambah banyak

Suatu ketika, Tuvia berhasil membunuh polisi yang dipaksa tentara Nazi untuk membunuh orang tuanya dan langkah selanjutnya adalah menyerang kamp Nazi. Namun korban jiwa di kalangan kaum Yahudi kemudian membuat Tuvia mempertimbangkan lagi keputusannya untuk melakukan serangan ini. Sayangnya, ini malah menjadi pemicu perpecahan antara Tuvia dan Zus.

Zus yang merasa tak lagi sepakat kemudian memutuskan untuk memisahkan diri dengan membawa beberapa orang yang sejalan dengan dirinya. Zus lalu bergabung dengan para pejuang Rusia yang setuju melindungi kaum Yahudi dengan imbalan bahan makanan.

Beberapa waktu kemudian, tentara Jerman berhasil menemukan lokasi persembunyian Tuvia dan kawan-kawannya serta berencana untuk membantai mereka semua tanpa ampun. Kalah dari sisi jumlah dan persenjataan, pasukan Tuvia memang tak punya kesempatan untuk menang, kecuali ada bantuan dari pihak lain.

Film yang mengambil setting di tahun 40-an ini diilhami oleh kisah yang benar-benar terjadi. Edward Zwick, sang sutradara, menulis ulang naskah film ini yang didasarkannya pada buku yang ditulis oleh seorang ahli sejarah bernama Nechama Tec.


Review :

Meski sekilas DEFIANCE terdengar seperti sebuah film perang, namun sejatinya film ini lebih banyak menyorot sisi pergulatan di dalam kelompok yang dipimpin Bielski bersaudara. Bagaimana mereka semua mengatasi segala kesulitan yang mereka hadapi termasuk makin menipisnya cadangan makanan untuk rakyat mereka. Adegan pertempuran memang ada namun bukanlah menu utama dari film yang berdurasi 137 menit ini. Yang jadi sajian utama di sini adalah usaha kelompok ini untuk bertahan hidup dari ancaman tentara Nazi, dengan pemimpinnya Tuvia Bielski.

Sayang ada sedikit masalah pada 'permainan emosi' pada film ini. Ada kesan film ini tidak terlalu tegang, karena agak sedikit serangan ke tempat pengungsian Yahudi ini, sehingga tidak banyak ada adegan peperangannya. Sehingga ada kesan juga bahwa tentara Nazi tidak benar-benar memburu mereka dan mereka sebenarnya aman selama masih dalam area mereka sendiri.Bila Anda sempat menonton film The Village arahan sutradara M. Night Shyamalan, maka kesan yang muncul kurang lebih sama dengan film ini.

Untuk akting para pemainnya pantas dapat acungan jempol. Liev Schreiber terasa pas memerankan Zus Bielski yang sangat idealis dan kadang cenderung kelewat berapi-api , patut ditunggu juga aktingnya dalam film box office X-Men Origins: Wolverine sebagai Victor Creed/Sabretooth sementara Daniel Craig juga bermain meyakinkan untuk peran sebagai Tuvia Bielski.

Akhirnya secara keseluruhan pada intinya bukan termasuk film ringan yang bisa dijadikan hiburan ringan pelepas rasa jenuh, namun jika ingin sekedar liat Daniel Craig boleh lah, jadi tingkatannya cuma cukup untuk tontonan di rumah aja.
Akhirnya, menurut penilaian gue film ini cukup.
Sekian dulu, semoga bisa menjadi bahan pertimbangan untuk menonton.
See You Next Movies Review !!
Kalo ada komentar, dipersilahkan !!!

Monday, May 11, 2009

Review Film 13 - The Other Boleyn Girl

Review Film XIII - The Other Boleyn Girl (Natalie Portman, Eric Bana, Scarlett Johansson, Jim Sturgess, Kristin Scott Thomas)

Penilaian : 6,5/10

Nonton di Cempaka Asri XXI - Solo, tanggalnya lupa

Tag Line : The only thing that could come between these sisters... is a kingdom

Sinopsis :

Menceritakan dua kakak beradik cewek yang berasal dari keluarga yang biasa saja, yaitu Anne Boleyn (Natalie Portman - V For Vendetta, Closer) and Mary Boleyn (Scarlett Johansson - The Nanny Diaries, Lost In Translation). Sementara itu Sir Thomas Boleyn (Mark Rylance -Intimacy), ayah kedua gadis itu menginginkan kehidupan yang lebih layak. Dengan dibantu Thomas Howard : Duke of Norfolk (David Morrisey - Basic Instinct 2, Derailed) adiknya, Sir Thomas Boleyn kemudian mengatur siasat agar salah satu dari Boleyn bersaudara dapat menjadi keluarga istana. Walaupun sesungguhnya istri dari Sir Thomas Boleyn, yaitu Lady Elizabeth Boleyn (Kristin Scott Thomas - The Golden Compass, The Horse Whisperer) tidak menyetujuinya.

Sir Thomas Boleyn dibantu dengan adiknya, kemudian berusaha mengambil hati Raja Henry Tudor (Eric Bana - Troy, Hulk), dengan menyodor-nyodorkan Mary dan Anne. Mary yang semula ragu-ragu dan tidak tertarik dengan rencana ayah dan pamannya malah berhasil menjadi selir sang raja. Dari Mary, Raja Henry Tudor mendapatkan 2 orang anak. Lama kelamaan, Mary akhirnya mencintai sang raja setulus hatinya walaupun ia hanya seorang selir saja.

Sebaliknya Anne yang gagal merebut hati sang raja mulai menyusun strategi untuk menggeser Mary saudaranya. Anne bukan cuma ingin menjadi selir sang raja. Ia ingin menjadi ratu Inggris menggeser posisi istri resmi Henry VIII.

Misi Anne akhirnya menjadi kenyataan, namun disamping itu pula dia harus merasakan HUKUM KARMA dari apa yang pernah dia perbuat, bahkan adik laki-lakinya yaitu George Boleyn (Jim Sturgess - 21, Across The Universe) harus juga menerima hukuman atas kesalahan yang tidak diperbuat George.

Film ber-setting kerajaan Inggris abad 16 ini disadur dari novel karya penulis Inggris Philippa Gregory dengan judul yang sama. Walaupun film ini sudah mulai masa produksi di akhir tahun 2006, namun baru awal 2008 film ini diedarkan oleh Columbia Pictures.


Review :
Meski film ini dibuat berdasarkan kisah nyata yang terjadi di Inggris pada abad keenam belas namun tak seluruh kisah yang digambarkan di sini adalah kisah nyata. Malah bisa dibilang bahwa film ini lebih menyorot sisi pribadi dari ketiga tokoh utama ketimbang pada sisi historisnya.

Yang cukup aneh di sini adalah pemilihan para pemeran utama yang semuanya bukan orang Inggris. Natalie Portman dan Scarlett Johansson adalah artis Amerika sementara Eric Bana yang memerankan Raja Henry Tudor justru adalah aktor asal Australia. Meski tak terlalu jadi masalah, namun urusan logat mau tak mau sedikit mengganggu juga sehingga sang aktor dan aktris tak bisa sepenuhnya konsentrasi pada urusan akting.

Untungnya dalam film ini ketiga pemeran utama ini bermain dengan cukup bagus meski sebenarnya Natalie Portman yang lebih terlihat menonjol di antara para pemain yang lain. Yang patut disayangkan justru adalah jalinan emosi antara ketiga tokoh yang terlibat cinta segi tiga berlatar belakang politik yang seolah tak terbentuk dengan baik dan ditambah lagi dengan alur ceritanya yang sedikit lambat, sehingga mungkin sedikit membuat ngantuk.

Ide cerita ini mungkin terasa lebih mantap saat berbentuk novel tapi malah terasa 'kering' saat dituangkan ke bentuk film. Saat menonton film ini ada kesan seolah kita sedang menonton film serial televisi atau sinetron dan bukannya film layar lebar. Bisa jadi ini karena lebih banyaknya adegan dialog ketimbang adegan visual pada film berdurasi sekitar 115 menit ini.

Untungnya, dari sisi visual, film ini cukup menarik untuk dilihat. Efek pewarnaan terasa pas dengan kostum yang dikenakan para pemain sehingga sangat memanjakan mata saat melihatnya. Ini juga tak lepas dari penggabungan antara lokasi syuting dan studio set yang terlihat sangat alami sehingga penonton seolah dibawa ke Inggris di abad keenam belas.

Akhirnya secara keseluruhan pada intinya bukan termasuk film ringan yang bisa dijadikan hiburan ringan pelepas rasa jenuh, namun jika menyukai film dengan alur yang lambat mungkin film ini cocok untuk ditonton. ya kalau sekedar untuk ditonton di rumah, boleh lah
Akhirnya, menurut penilaian gue film ini cukup.
Sekian dulu, semoga bisa menjadi bahan pertimbangan untuk menonton.
See You Next Movies Review !!
Kalo ada komentar, dipersilahkan !!!

Wednesday, May 6, 2009

Review Film 12 - The Day The Earth Stood Still


Review Film XII - The Day The Earth Stood Still ( Keanu Reeves, Jennifer Connelly, Kathy Bates, Jaden Smith, John Cleese)

Penilaian : 6/10

Nonton di Cempaka Asri XXI - Solo, tanggalnya lupa

Tag Line : 12.12.08 is the Day the Earth Stood Still

Sinopsis :

Menceritakan seorang makhluk bernama Klaatu (Keanu Reeves - Matrix Trilogy, The Devil's Advocate) adalah makhluk luar angkasa yang mendarat di Washington DC bersama Gort, sebuah robot canggih, dengan sebuah pesawat ruang angkasa. Pada saat baru keluar dari dalam pesawat, Klaatu ditembak oleh tentara yang merasa terkejut dengan kemunculan pesawat aneh ini. Hal ini mengakibatkan Gort datang dan melelehkan senjata para tentara yang ada di sana, namun tidak ada tindakan untuk melukai seorang pun yang ada di lokasi tersebut. Ternyata, Gort memang tak pernah bermaksud melukai siapa pun. Gort hanya bermaksud melindungi Klaatu.

Klaatu kemudian dibawa oleh para tentara ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Saat berada di rumah sakit, Klaatu kemudian memutuskan untuk melarikan diri agar dapat membaur dengan penduduk planet Bumi ini.

Klaatu kemudian bertemu dengan Helen Benson (Jennifer Connelly - Blood Diamond, The Rocketeer) yang kemudian mengajak Klaatu untuk berkeliling kota. Tadinya tidak diketahui kalau Klaatu adalah makhluk dari planet lain, sehingga Helen tidak curiga namun lambat laun, Helen mulai curiga dan meminta penjelasan pada Klaatu.

Setelah ditanya demikian, Klaatu akhirnya membuka rahasia dan menyampaikan maksud kedatangannya ke Bumi. Klaatu dan Gort adalah makhluk luar angkasa yang bertugas memutuskan apakah sebuah planet harus dihancurkan atau dibiarkan tetap ada.

Remake dari film berjudul sama yang dilepas sekitar tahun 1951 ini mencoba mengusung tema yang mirip dengan War of The World, yang telah lebih dahulu diremake dengan bintang Tom Cruise dan Dakota Fanning, dengan sutradara Steven Spielberg. Untuk film ini, Scott Derrickson, sang sutradara, berusaha untuk tetap konsisten terhadap naskah asli dari film yang dulunya diadaptasi dari sebuah cerita pendek karya Harry Bates.


Review :

Dari waktu ke waktu, film dari genre fiksi ilmiah memang sering kali dijadikan sebuah 'kamuflase' untuk menyamarkan pesan moral atau politik yang sebenarnya ingin disampaikan. Dan dalam beberapa kasus, pesan tersebut memang tersampaikan dengan baik seperti pada versi original dari film ini. Di saat itu, isu mengenai perang dingin dan penghancuran umat manusia dengan nuklir memang sedang gencar-gencarnya. Dan film ini mencoba menyelipkan pesan-pesan moral ini lewat metafora yang terwujud dalam alur kisah film ini.

Yang jadi masalah pada versi tahun 2008 ini adalah bahwa isu itu sudah bergeser dan tak lagi relevan dengan kondisi saat film pertama dibuat. Konsekuensinya memang sang sutradara harus membuat sedikit penyesuaian agar tak terasa janggal. Dan anehnya di sini Scott Derrickson malah berusaha membuat film ini 'sedekat mungkin' dengan naskah film versi tahun 1951 meski sebenarnya ada beberapa detail yang mulai diubah. Hasilnya, film ini jadi terasa janggal dan tak sesuai dengan kondisi saat ini.

Untungnya, dari sisi visual film ini cukup 'LUMAYAN tentunya ini hasil dari para pakar efek visual yang berdiri di balik pembuatan film ini. Walaupun begitu, untuk menyebut efek visual yang disajikan film ini sebagai sesuatu yang benar-benar fresh mungkin agak sulit. Beberapa film sebelumnya sebenarnya juga menyajikan efek visual yang tak kalah hebatnya.

Pemilihan Keanu Reeves sebagai pemeran Klaatu memang tepat. Wajah Keanu yang memang terlihat seolah tanpa emosi rasanya pas sekali memerankan tokoh Klaatu yang sebenarnya adalah robot, walau aktingnya mungkin tidak sebaik pada saat main di film Matrix.

Dan yang paling gue suka sih sebenernya adalah Jennifer Connelly yang memerankan Helen Benson, dia mampu mempertahankan kualitas aktingnya sama seperti film-filmnya terdahulu, sperti misalanya dalam Hulk atau A Beautiful Mind. Udah cantik dan aktingnya mantap !!

Akhirnya secara keseluruhan pada intinya film ini tidak lebih bagus kalau dibandingkan dengan film sejenis. Ya cuma sampai pada tingkatan, kalau sekedar untuk ditonton di rumah, boleh lah
Akhirnya, menurut penilaian gue film ini cukup.
Sekian dulu, semoga bisa menjadi bahan pertimbangan untuk menonton.
See You Next Movies Review !!
Kalo ada komentar, dipersilahkan !!!

Thursday, April 30, 2009

Review Film 11 - Knowing


Review Film XI - Knowing (Nicolas Cage, Rosie Bryne)

Penilaian : 7,5/10

Nonton di Studio XXI Ambarukmo Plaza Studio 1 tanggal 26 April 2009 jam 16.10

Tag Line : Knowing is Everything...



Sinopsis :

Sebuah penggalian yang dilakukan di sebuah sekolah menemukan barang-barang dari masa lalu yang memang sengaja dikubur untuk ditemukan orang-orang di masa yang akan datang. Salah satu dari hasil temuan itu adalah deretan angka yang dibuat oleh seorang anak lima puluh tahun yang silam. Semula deretan angka itu terlihat seperti deretan angka acak namun ternyata di balik deretan angka itu tersimpan sebuah misteri.

Caleb Koestler (Chandler Canterbury - The Curious Case of Benjamin Button), putra John Koestler (Nicolas Cage - Gone in 60 Seconds, Leaving Las Vegas) membawa temuan itu dan menunjukkan pada ayahnya yang memang adalah seorang ahli astrofisika. Setelah meneliti deretan angka tersebut, John menyadari ada sebuah pesan yang ingin disampaikan oleh si penulis dan ternyata di dalam deretan angka itu juga tersimpan sebuah fakta yang menakutkan.

Dalam deretan angka itu tersimpan beberapa catatan kejadian selama lima puluh tahun terakhir. Artinya, saat deretan angka itu ditulis, sang penulis tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Meski semula tak percaya, namun John akhirnya mau tak mau merasa khawatir bahwa ramalan yang tertulis dalam deretan angka itu memang akan benar-benar terjadi. Dan yang paling menakutkan adalah ramalan yang menyebutkan bahwa tak lama lagi ras manusia akan punah.

Kini John punya dua pilihan: membiarkan itu semua terjadi secara wajar atau berusaha untuk menentang takdir dan menyelamatkan seluruh umat manusia dari kepunahan seperti yang digambarkan dalam ramalan dari masa lalu itu. Masalahnya, adakah orang yang percaya pada kata-kata John atau John harus menjalankan misi mulia ini seorang diri.



Review :
Film ini menurut gue cukup lumayan, dari awal cukup dramatis sampai dengan akhir yang sayangnya menurut gue ANTI KLIMAKS, jadi sangat disayangkan akhirnya merusak penilaian atas film ini.
2 tragedi kecelakaan yang diperkirakan banyak mengakibatkan banyak orang yang tewas, dan ternyata benar-benar terjadi yaitu : kecelakaan jatuhnya pesawat di pinggir jalan bebas hambatan dan kecelakaan kereta api di terowongan, cukup digambarkan oleh sutradara Alex Proyas (hasil karyanya yang lain: I,Robot, Dark City) cukup baik dan dramatis, bikin gue berpikir sampai begitu dahsyatnya sebuah kecelakaan. Ya tapi sekali lagi ending yang harus mengikutsertakan Makhluk Planet Lain untuk menyelamatkan planet bumi serta terpilihnya 2 orang anak untuk melanjutkan kehidupan untuk Planet Bumi yang baru, dari itu muncullah Adam dan Hawa baru (New Adam and Eve), akhir cerita ini lah yang cukup mengganjal buat gue..padahal secara 90% film sudah sangat baik.
Untuk pemainnya, ya Nicolas Cage......ya banyaklah yang menggemari Cage, apalagi dia banyak main di film-film Blockbuster (terutama dengan produser Jerry Bruckheimer, misalnya : Con Air, Face/Off, Gone in 60 Second,The Rock....namun entah gimana koq aktingnya begitu-gitu saja, malah banyak beberapa film yang mungkin tidak sesuai dengan harapan untuk produser mendapatkan untung.
Satu bintang lagi yang lumayan untuk disimak adalah Rosie Bryne yang berperan sebagai Diana Wayland, yang dulu kita sempat liat bermain di film Troy sebagai Briseis (pacar Troy) atau di film Wicker Park .

Tapi secara keseluruahn pada intinya film ini cukup menghibur, dengan inti cerita yang cukup dramatis, namun ada yang cukup disayangkan yaitu ending-nya.
Akhirnya, menurut penilaian gue film ini cukup bagus, direkomendasikan untuk menontonnya, just like you watch POP CORN MOVIE....
Sekian dulu, semoga bisa menjadi bahan pertimbangan untuk menonton.
See You Next Movies Review !!
Kalo ada komentar, dipersilahkan !!!

Monday, April 20, 2009

Review Film 10 - The Fast and The Furious


Review Film X - The Fast and The Furious (Paul Walker, Vin Diesel, Jordana Brewster, Michelle Rodriguez, Sung Kang, Gal Gadot, John Ortiz)

Penilaian : 7,5/10

Nonton di Studio XXI Ambarukmo Plaza Studio 4 tanggal 19 April 2009 jam 15.05

Tag Line : New Model. Original Parts.



Sinopsis :

Hubungan antara Dominic Toretto (Vin Diesel - xXx, Pitch Black, Boiler Room) dan Brian O'Conner (Paul Walker - Running Scared, Into the Blue) memang unik. Di satu sisi Dom sangat membenci Brian karena ia adalah polisi yang menyamar menjadi pembalap untuk membekuk komplotan perampok yang dipimpin Dom, tapi di sisi lain, Brian juga sempat menyelamatkan nyawanya beberapa kali.

Setelah mencoba untuk menjauh dari Brian, akhirnya takdir membawa Dom kembali ke Los Angeles di mana ia harus bertemu Brian lagi. Namun kali ini kembali Dom terpaksa harus menjalin kerja sama dengan orang yang dibencinya ini karena mereka berdua menghadapi musuh yang sama. Tak ada pilihan buat Dom dan Brian selain saling mempercayai untuk menyelesaikan misi pribadi mereka masing-masing.

Brian ditugaskan untuk menyusup ke jaringan pengedar narkotika bernama Antonio Braga (John Ortiz - Alien vs Predator 2, Miami Vice). Brian menemukan celah saat Braga mencari seorang pembalap liar untuk dijadikan kurir. Celakanya, Dominic juga mengincar posisi yang sama meski sebenarnya motivasi Dominic adalah murni dendam. Dominic ingin membalas kematian Letty (Michelle Rodriguez - SWAT, Resident Evil) karena ulah Braga. Tak lupa sebagai bumbu percintaan diceritakan kembali CLBK antara Brian dengan adik Dom, Mia Toretto (Jordana Brewster - Annapolis, The Invicible Circus)


Review :

Sebuah film ber-genre racing mampu bertahan hingga sekuel keempat boleh jadi adalah sebuah prestasi. Tapi bisa jadi juga peluncuran bagian keempat ini sebagai penebus dari dua episode sebelumnya yang gagal. Ini terlihat dari susunan pemain yang sama dengan bagian pertama yang melambungkan genre film racing di tahun 2001 lalu.

Diakui atau tidak, 2 Fast 2 Furious dan The Fast and The Furious :Tokyo Drift memang gagal menduduki peringkat yang sama dengan bagian pertama. Dua film ini seolah kehilangan taring bila dibandingkan dengan episode awalnya. Topik yang mulai terasa monoton dan sekuens laga yang tak lagi menarik bisa dijadikan kambing hitam gagalnya film ini di pasaran. Tapi agaknya kenyataan itu tak membuat Universal Studios menyerah dan muncullah bagian keempat dengan original lineup ini.

Tapi kalaupun dianggap bagian keempat ini sebagai koreksi, sepertinya usaha itu juga tak terlalu berhasil. Menu yang disuguhkan juga masih tak jauh dari tiga bagian sebelumnya. Akhirnya, studio cuma bisa berharap bahwa para peminat genre film racing masih cukup banyak dan bersedia mengeluarkan uang untuk menonton film ini.

Alur cerita tak cukup kuat untuk membuat film ini jadi sesuatu yang pantas dikenang sementara akting para pemainnya juga tergolong standar saja. Soal visual memang masih cukup menarik walau sebenarnya tak ada sesuatu yang baru sama sekali. Mungkin yang paling bisa kita nikmati dari film ini cuma kolaborasi Vin Diesel dan Paul Walker, yang cukup bermain kompak meskipun keduanya sering terlibat perselisihan.

Di samping itu juga akhir film pun cukup memberikan kesan bahwa ada kemungkinan akan ada kelanjutan serial Fast and Furious ini, ditambah juga di awal cerita diceritakan Dom mempunyai teman bernama Han (Sung Kang - Rogue Assasin, Live Free or Die Hard). Karakter Han inipun sempat muncul di The Fast and The Furious :Tokyo Drift. Dari sini lah masi ada kemungkinan untuk melanjutkan serial ini.

Intinya film ini cukup menghibur, dengan inti cerita tetap balap-balapan, cuma dengan melebihkan bumbu drama di dalamnya. Ditambah juga dengan Soundtrack-nya yang cukup memacu adrenalin, ya mungkin bolehlah kalau ada sedikit di bawah Fast and Furious yang pertama
Akhirnya, menurut penilaian gue film ini cukup bagus, direkomendasikan untuk menontonnya !!
Sekian dulu, semoga bisa menjadi bahan pertimbangan untuk menonton.
See You Next Movies Review !!
Kalo ada komentar, dipersilahkan !!!

Review Film 9 - The Nanny Diaries

u
Review Film IX - The Nanny Diaries (Scarlett Johansson, Laura Linney, Alicia Keys, Chris Evans, Paul Giamatti)

Penilaian : 7/10

Nonton di Cempaka Asri XXI - Solo, tanggalnya lupa

Tag Line : A comedy about life at the top, as seen from the bottom



Sinopsis :

Annie Braddock (Scarlett Johansson - The Prestige, Lost in Translation) adalah mahasiswa jurusan bisnis dan antropologi. Keluarga Annie yang berasal dari kalangan bawah mengharapkan Annie bisa mendapat pekerjaan yang layak. Ibu Annie yang seorang perawat mendorong Annie untuk bekerja di bidang bisnis sementara Annie sendiri lebih menyukai antropologi yang mempelajari kehidupan dan budaya manusia.

Setelah menyelesaikan kuliah, Annie mendapat panggilan untuk wawancara pada sebuah perusahaan besar bernama Goldman Sacks. Saat Annie sedang diwawancarai, ia diminta untuk menceritakan siapa dirinya. Ketika baru memulai ceritanya, Annie sadar bahwa ia tak pernah menginginkan pekerjaan itu. Annie pun lalu meninggalkan wawancara itu.

Saat berada di Central Park, secara kebetulan Annie menyelamatkan seorang anak kecil yang hampir tertabrak motor. Annie kemudian berkenalan dengan ibu si anak kecil tadi yang memperkenalkan dirinya dengan sebutan Mrs. X (Laura Linney - Love Actually, Mystic River). Saat memperkenalkan diri, Mrs. X salah mendengar nama Annie dan dikiranya Nannie atau sebutan untuk pengasuh anak. Karena kesalahpahaman itu, Annie akhirnya malah ditawari bekerja sebagai pengasuh anak. Para ibu-ibu yang berada di sekitar Annie yang kebetulan mendengar percakapan mereka lalu mulai menawarkan pekerjaan yang sama kepada Annie.

Ternyata anak yang ditolong Annie tadi berasal dari keluarga kaya yang tinggal di di daerah mewah Upper East Side. Walaupun tidak punya pengalaman sebagai pengasuh anak, Annie menerima pekerjaan yang ditawarkan Mrs. X itu karena rasa ingin tahunya. Namun pada saat yang sama Annie juga harus merahasiakan pekerjaannya dari ibunya yang jelas tidak akan setuju. Sementara Lynette (Alicia Keys - Smokin Aces, singer of OST Quantum of Solace) sahabat Annie yang membantu kepindahan Annie tidak setuju dengan keputusan Annie merahasiakan pekerjaannya.

Tugas pertama yang diterima Annie adalah menjemput Anak Mrs. X yang ternyata bernama Grayer (Nicholas Reese Art - Syriana). Tugas sederhana itu ternyata menjadi rumit karena Mrs. X meminta Annie datang ke sekolah Grayer 30 menit lebih awal. Dan Grayer yang semula terlihat sebagai anak manis ternyata adalah anak yang sangat nakal dan merepotkan Annie. Namun dengan kesabaran tinggi Annie akhirnya dapat menaklukkan Grayer. Keduanya akhirnya menjadi dua sahabat baik.

Ternyata, setelah urusan menaklukkan Grayer selesai, masalah lain muncul. Ibu Annie ingin datang mengunjungi Annie yang dikiranya bekerja pada perusahaan Goldman Sacks. Masalah ini masih ditambah lagi ibu Grayer yang memasang kamera untuk mengawasi pekerjaan Annie yang dianggapnya tidak beres.

Ternyata setelah Annie masuk ke dalam kehidupan orang-orang kalangan atas yang penuh aturan, ia mendapati bahwa sisi yang tidak pernah ia bayangkan itu tidaklah seindah yang tampak. Annie mau tak mau harus menghadapi rumitnya hubungan keluarga majikannya. Belum lagi munculnya seorang pemuda tampan yang akhirnya malah menambah rumit masalah yang sudah ada.

Drama komedi yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Emma McLaughlin dan Nicola Kraus ini di sutradarai oleh Shari Springer Berman dan Robert Pulcini yang sebelumnya lebih banyak menggarap film-film dokumenter. Film yang dirilis oleh MGM dan Paramount Pictures Agustus lalu ini berhasil meraup US$35 juta lebih dengan dana US$ 20 juta yang dikeluarkan selama produksi.

Review :
Scarlett Johansson berakting cukup baik dalam film ini walau tidak sebaik aktingnya di Lost in Translation, namun bermain bersama dengan aktor ganteng yaitu Chris Evans (Dwilogi Fantastic Four, Cellular) . Demikian pula dengan Laura Linney yang bermain cukup mantap sebagai ibu rumah tangga metropolis yang cukup kejam dan tidak perduli dengan keluarga, ditambah kehidupannya dengan suaminya yang kacau balau, diperankan oleh Paul Giamatti (Shoot Em Up, The Lady in the Water).
Kesimpulannya film ini cukup menghibur, dengan ide cerita yang ringan namun cukup lah untuk peneman kita sebelum tidur, jadi tidak cukup ngejelimet.
Akhirnya, menurut penilaian gue film ini cukup !!! direkomendasikan untuk menontonnya !!
Sekian dulu, semoga bisa menjadi bahan pertimbangan untuk menonton.
See You Next Movies Review !!
Kalo ada komentar, dipersilahkan !!!

Thursday, February 19, 2009

Review Film 8 - Red Cliff 2


Review Film VIII - Red Cliff 2 (Tony Leung Chiu-Wai, Takeshi Kaneshiro, Zhang Fengyi, Chang Chen, Vicky Zhao Wei, Hu Jun, Nakamura Shido, Lin Chi-ling)
Judul Versi Mandarin : Chi Bi Xia: Jue Zhan Tian Xia

Penilaian : 8/10

Nonton di Sumarecon Serpong XXI Studio 6 hari Sabtu tanggal 31 Januari 2009 jam 22:30

Tag Line : -

Sinopsis :
Keserakahan membuat Cao Cao (Zhang Fengyi -The Emperor and the Assassin, Farewell My Concubine) ingin merebut dua wilayah lain dan menyatukan seluruh daratan China dalam kekuasaannya. Kekuatan tentara Cao Cao mau tak mau membuat Sun Quan (Chang Chen - The Eye 3, Crouching Tiger, Hidden Dragon) dan Liu Bei (You Yong - Election, A World Without Thieves) harus bersatu untuk melawan Cao Cao. Dan peperangan besar pun tak dapat dielakkan.
Di tengah peperangan antara Cao Cao dan dua kubu, Sun Quan dan Liu Bei yang bersekutu tiba-tiba saja pasukan Cao Cao diserang wabah penyakit yang mematikan. Beberapa tentara yang semula sehat tiba-tiba saja jatuh sakit dan mati. Cao Cao yang licik kemudian malah memanfaatkan kelemahan ini untuk menghancurkan dua musuhnya.
Cao Cao mengirim mayat tentaranya ke wilayah Sun Quan dan Liu Bei agar wabah yang sama dapat menulari mereka juga, dan taktik ini berhasil. Di tengah wabah yang menyerang, Liu Bei memutuskan untuk berpisah dari Sun Quan. Mendengar berita itu, Cao Cao merasa taktiknya telah berhasil dan mengadakan pesta untuk merayakan keberhasilan ini.
Ternyata, kepergian Liu Bei hanyalah tipu muslihat agar Cao Cao lengah. Di saat yang tepat, pasukan Liu Bei dan Sun Quan datang menyerbu dari arah laut dan darat. Armada kapal perang Cao Cao dapat dihancurkan dengan mudah sementara Cao Cao dalam keadaan tidak siap.
Review :
Setelah kita dibuat dongkol dengan akhir Red Cliff 1 yang dibuat "Gantung", akhirnya keluar juga film lanjutan Red Cliff 2, masi dengan arahan sutradara kondang John Woo. Yang membuat film ini ada gregetnya terus terang karena ada Tony Leung Chiu Wai, yang berperan sebagai Zhou Yu (sudah tersohor sejak bergabung dengan Five Tigers pada saat dulu serial silat TVB sedang booming tahun 80-an, barengan dengan Felix Wong Yat Wa, Andy Lau Tek Hua, Miao Chiao Wei dan Kent Tong) dan Takeshi Kaneshiro (blesteran Cina-Jepang, filmnya diantaranya : Perhaps Love, House of the Flying Dagger), yang berperan sebagai Zhuge Liang
Dalam pembuatan film ini ada beberapa fakta yang sampai sekarang belum bisa diungkap oleh para ahli sejarah pun terpaksa harus mengikuti penyesuaian ini. Misalnya saja faktor utama kekalahan pasukan Cao Cao yang menurut para ahli masih diragukan. Alih-alih memilih wabah penyakit sebagai alasan, John Woo lebih tertarik pada peperangan itu sendiri dengan alasan yang dapat ditebak, membuat film ini jadi lebih heroik. Banyak yang menyebut film Red Cliff ini sebagai era kebangkitan film Asia yang ditandai dengan kembalinya John Woo menggarap film Hong Kong setelah enam belas tahun bergelut dengan dunia film Hollywood. Dan untuk sebuah film kolosal Asia, yang satu ini memang punya nilai lebih karena John Woo berhasil menyajikan kisah Asia dalam suguhan yang terasa lebih universal. Bila dibandingkan dengan bagian pertamanya, film ini memang terasa lebih 'tegang' meski suguhan laga bukanlah menu utama dalam film ini. Intrik dan tipu daya masih tetap menjadi warna tersendiri seperti pada kebanyakan film-film Hong Kong. namun memang kekalahan Cao Cao tidak diduga kalahnya seperti itu, namun dengan belum tewasnya Cao Cao ada kemungkinan benar ada lanjutannya (sehingga film ini menjadi Trilogi), dan mungkin fokus film seri ketiganya lebih pada faktor anak dari Cao Cao yang menuntut balas ke Zhao Yu, Cao Ying. Hal tersebut sudah kita saksikan dalam film Three Kingdom, dengan Andy Lau berperan sebagai Zhao Yu dan Maggie Q sebagai Cao Ying.
Akhirnya, menurut penilaian gue film ini bagus !!! direkomendasikan untuk menontonnya !!
Sekian dulu, semoga bisa menjadi bahan pertimbangan untuk menonton.
See You Next Movies Review !!
Kalo ada komentar, dipersilahkan !!!