Wednesday, May 20, 2009

Review Film 16 - The Happening


Review Film XVI - The Happening (Mark Wahlberg, Zoey Deschanel,John Leguizamo)

Penilaian : 4,5/10

Nonton di Cempaka Asri XXI - Solo, hari Selasa tanggal 19 Mei 2009

Tag Line : We've Sensed It. We've Seen The Signs. Now... It's Happening.



Sinopsis :

Film ini menceritakan virus aneh yang menyebar lewat udara menyerang kota Philadelphia. Tak ada yang bisa lolos dari serbuan virus aneh ini. Korban telah berjatuhan di banyak tempat. Virus aneh ini membawa dampak buruk buat manusia. Yang tertular virus ini akan melakukan bunuh diri bahkan tanpa sebab yang jelas.

Elliot Moore (Mark Wahlberg - Max Payne, Shooter) seorang guru ilmu pengetahuan alam berusaha membawa istrinya Alma (Zooey Deschanel - Yes Man, The Assassination of Jesse James by Coward Robert Ford) mencoba melarikan diri dari wabah yang belum jelas asal-usulnya itu. Dengan mengendarai mobil menuju luar kota, Elliot berharap selamat dari wabah itu. Atau setidaknya untuk sementara waktu.

Tidak ada yang tahu pasti seberapa jauh virus itu telah menyebar, dan masih adakah tempat yang aman untuk berlindung dari serbuan virus ganas tersebut. Bahkan pihak berwenang pun tidak mengetahui asal muasal virus ini dan bagaimana cara bekerjanya.


Review :

Semenjak sukses di film Sixth Sense, sutradara M Night Shyamalan memang sering menggali topik-topik yang tidak umum. Film-film karyanya cenderung membuat penonton berpikir keras akan pesan yang ingin disampaikan sang sutradara. Film ini juga bukan pengecualian. Tapi kesan horor di film ini, keliatannya kurang menarik untuk di simak.

Beberapa detail dari film ini justru membuat orang semakin bingung dan tak mengerti jalan cerita dari film ini. Entah karena kesengajaan atau karena kesalahan memasukkan detail yang malah tak bisa dijawab oleh ending cerita, yang tidak ada juntrungan akhir cerita film ini

Mungkin ada berharap Shyamalan mampu membuat film brilian seperti Sixth Sense yang sanggup menipu penontonnya. Namun jika dibandingkan dengan film ini, menurut saya malah lebih parah akhirnya daripada Lady In The Water atau The Village.

Demikian pula untuk akting para pemain filmnya, Mark Wahlberg ternyata tidak mampu untuk mengangkat film ini secara keseluruhan dan sangat disayangkan koq mau bermain dalam film yang kurang menonjolkan aktingnya. Bahkan untuk dialog-dialognya pun tidak berkesan natural malah kesannya seperti dibuat-buat. Entah karena Mark Wahlberg yang tak mampu menghayati naskah atau sang sutradara yang tak bisa mengarahkan aktor dan aktris dalam membawakan dialog tersebut. Para pemeran yang lain seperti Zooey Deschanel ataupun John Leguizamo (Righteous Kill, Trilogi Ice Age) -pun juga benar-benar biasa sekali aktingnya.

Akhirnya film ini tak jauh beda dengan The Village atau Lady In The Water yang mengecewakan, atau mungkin lebih mengecewakan malah . Mungkin dibutuhkan waktu lebih lama untuk mencerna dan memahami cara berpikir M Night Shyamalan agar bisa menikmati film ini.

Akhirnya secara keseluruhan film ini menurut penilaian saya Buruk, bahkan untuk ditonton di rumah-pun akan sulit sekali memahami film ini.
Sekian dulu, semoga bisa menjadi bahan pertimbangan untuk menonton.
See You Next Movies Review !!
Kalo ada komentar, dipersilahkan !!!

Review Film 15 - Angels and Demons


Review Film XV - Angels and Demons (Tom Hanks, Ewan McGregor, Ayelet Zurer,Stellan Skarsgard, Armin Mueller Stahl)

Penilaian : 8,5/10

Nonton di Empire XXI Jogyakarta Studio 1 Jam 17.45 hari Minggu tanggal 17 Mei 2009

Tag Line : The holiest event of our time. Perfect for their return



Sinopsis :

Cerita diawali dengan berpulangnya Paus dikarenakan sakit, yang cukup membuat kota Vatikan menjadi heboh. Kehebohan berlanjut dengan diculiknya 4 kardinal yang menjadi kandidat pengganti Paus oleh sekelompok orang yang tidak bertanggungjawab.

Pada saat yang sama Leonardo Vetra, salah seorang ilmuwan yang bekerja di CERN, (Conseil Europeen pour la Recherche Nucleaire) terbunuh, di dadanya terlihat sebuah tanda yang mengarah pada sebuah persaudaraan yang diduga telah musnah. Kematian yang tak wajar ini membuat para ilmuwan di CERN terpaksa harus menghubungi pakar simbol Robert Langdon (Tom Hanks - Forrest Gump, Sleepless in Seattle)

Langdon yang semula tak percaya bahwa persaudaraan Illuminati ini masih ada mau tak mau harus menerima kenyataan karena tak ada orang yang sanggup membuat tanda ambigram sempurna yang menjadi simbol Illuminati kecuali dari persaudaraan rahasia ini sendiri.

Petualangan kemudian membawa Langdon dan Vittoria Vetra (Ayelet Zurer - Vantage Point, Munich) yang ingin mengetahui pembunuh ayahnya ke Vatican di mana persaudaraan Illuminati mengancam akan meledakkan kota suci ini dan membunuh semua orang di dalamnya. Satu-satunya cara melacak si pembunuh adalah dengan mencegah atas pembunuhan 4 orang kardinal yang telah diculik atau paling mengikuti tanda-tanda yang ditinggalkan sang anggota Illuminati setelah membunuh kardinal tersebut, dengan harapan dapat mencegah pembunuhan massal ini.

Sayangnya sang pembunuh hanya meninggalkan petunjuk di atas mayat para Kardinal yang telah ia bunuh satu per satu. Kini Langdon dan Vetra harus berpacu untuk mendahului sang pembunuh atau semua Kardinal yang diculik mati dan tak ada petunjuk mengenai lokasi peledak yang dipasang persaudaraan Illuminati ini.

Apakah Langdon dapat menyelamatkan para kardinal tersebut sekaligus memecahkan teka-teki yang ada dibalik penculikan tersebut? Paling tidak menyelamatkan 1 orang kardinal saja, agar ada penerus tahta Paus. Di samping itu juga banyak konflik yang ada di Vatikan, di antaranya yang melibatkan Camerlengo Patrick McKenna (yang diperankan secara brilian oleh Ewan McGregor - Trainspotting, Star Wars Trilogy Prequel), Cardinal Strauss (Armin Mueller Stahl - The International, Eastern Promises) dan Commander Richter (Stellan Skaarsgard - Mamma Mia !, Pirates of the Carribbean : At Worlds End)

Review :

Seperti kebanyakan film yang diadaptasi dari novel, prekuel dari The Davinci Code ini terdapat beberapa penyesuaian mesti dilakukan karena keterbatasan durasi tayang dan lain sebagainya. Ini yang sering kali membuat para fans novel merasa kecewa dengan visualisasi dari tulisan yang sempat mereka baca sebelumnya. Film ini juga bukan pengecualian. Bila Anda sempat membaca novelnya, Anda pasti tahu bahwa ada beberapa fakta atau detail yang harus 'disesuaikan'. Terlepas dari segala 'penyesuaian' itu, film adalah sebuah karya yang layak dinilai sebagai dirinya sendiri.

Sebagai sebuah film, Angels and Demons ini cukup mampu membawa inti permasalahan dari novel ke dalam bentuk visual. Ron Howard (The Davinci Code, A Beautiful Mind) sebagai sutradara sanggup membuat sebuah film yang cukup berimbang dan tak memihak mana pun. Agama dan ilmu pengetahuan dapat berjalan beriringan selama ada saling pengertian dan toleransi.

Karena keterbatasan waktu juga maka film ini jadi terasa bertempo sangat cepat. Tak ada waktu untuk menarik nafas atau beristirahat sejenak. Ini tak bisa dihindari juga karena versi novelnya juga punya tempo yang lumayan cepat meski masih ada titik-titik di mana kita diberi waktu untuk sekedar menghela nafas.

Tampilan visual dari Sistine Chapel, Pantheon, Gereja dan Makam terlihat sangat mengagumkan meski Howard harus melakukan pengambilan gambar bukan di tempat aslinya. Sebuah tontonan yang menarik selama Anda tak membanding-bandingkannya dengan versi novelnya.

Sementara untuk akting, Tom Hanks memang menunjukkan kalau dia memang mempunyai reputasi tersendiri untuk perannya sebagai Robert Langdon, walau kesannya Langdon itu jenius sekali mampu menyelesaikan segala teka teki yang ada dengan waktu yang terbatas dan cukup cepat. Dan yang paling mencuri perhatian adalah Ewan McGregor, aktingnya begitu bagus. Bagus dalam arti brilian sebagai orang yang kurang dianggap lalu mencuat menjadi penyelamat vatikan, namun pada akhir cerita yang tidak terduga justru malah menjadi pecundang.

Akhirnya secara keseluruhan film ini lebih baik dari The Davinci Code, layak tonton !!!
Akhirnya, menurut penilaian gue film ini Bagus.
Sekian dulu, semoga bisa menjadi bahan pertimbangan untuk menonton.
See You Next Movies Review !!
Kalo ada komentar, dipersilahkan !!!

Tuesday, May 12, 2009

Review Film 14 - Defiance


Review Film XIV - Defiance (Daniel Craig, Liev Schreiber, Jamie Bell, George MacKay)

Penilaian : 6,5/10

Nonton di Cempaka Asri XXI - Solo, tanggalnya lupa

Tag Line : Freedom begins with an act of defiance!



Sinopsis :
Menceritakan tentang empat bersaudara Bielski: Tuvia Bielski (Daniel Craig - Quantum of Solace, The Golden Compass), Zus Bielski (Liev Schreiber - The Painted Fail, The Manchurian Candidate), Asael Bielski (Jamie Bell - Jumper, Kingkong) dan Aron Bielski (George MacKay - Peterpan) berhasil lolos dari pembantaian Nazi meski mereka harus merelakan kedua orang tua mereka dibantai pasukan ganas dari Jerman ini.

Mereka lantas bersembunyi di hutan dan bersumpah untuk membalas kematian kedua orang tua mereka. Di dalam hutan, Bielski bersaudara bertemu dengan para pengungsi Yahudi lain yang juga bersembunyi dari kejaran Nazi. Waktu berlalu dan kelompok kecil yang dipimpin Bielski bersaudara ini pun mulai menjadi besar dan makin bertambah banyak

Suatu ketika, Tuvia berhasil membunuh polisi yang dipaksa tentara Nazi untuk membunuh orang tuanya dan langkah selanjutnya adalah menyerang kamp Nazi. Namun korban jiwa di kalangan kaum Yahudi kemudian membuat Tuvia mempertimbangkan lagi keputusannya untuk melakukan serangan ini. Sayangnya, ini malah menjadi pemicu perpecahan antara Tuvia dan Zus.

Zus yang merasa tak lagi sepakat kemudian memutuskan untuk memisahkan diri dengan membawa beberapa orang yang sejalan dengan dirinya. Zus lalu bergabung dengan para pejuang Rusia yang setuju melindungi kaum Yahudi dengan imbalan bahan makanan.

Beberapa waktu kemudian, tentara Jerman berhasil menemukan lokasi persembunyian Tuvia dan kawan-kawannya serta berencana untuk membantai mereka semua tanpa ampun. Kalah dari sisi jumlah dan persenjataan, pasukan Tuvia memang tak punya kesempatan untuk menang, kecuali ada bantuan dari pihak lain.

Film yang mengambil setting di tahun 40-an ini diilhami oleh kisah yang benar-benar terjadi. Edward Zwick, sang sutradara, menulis ulang naskah film ini yang didasarkannya pada buku yang ditulis oleh seorang ahli sejarah bernama Nechama Tec.


Review :

Meski sekilas DEFIANCE terdengar seperti sebuah film perang, namun sejatinya film ini lebih banyak menyorot sisi pergulatan di dalam kelompok yang dipimpin Bielski bersaudara. Bagaimana mereka semua mengatasi segala kesulitan yang mereka hadapi termasuk makin menipisnya cadangan makanan untuk rakyat mereka. Adegan pertempuran memang ada namun bukanlah menu utama dari film yang berdurasi 137 menit ini. Yang jadi sajian utama di sini adalah usaha kelompok ini untuk bertahan hidup dari ancaman tentara Nazi, dengan pemimpinnya Tuvia Bielski.

Sayang ada sedikit masalah pada 'permainan emosi' pada film ini. Ada kesan film ini tidak terlalu tegang, karena agak sedikit serangan ke tempat pengungsian Yahudi ini, sehingga tidak banyak ada adegan peperangannya. Sehingga ada kesan juga bahwa tentara Nazi tidak benar-benar memburu mereka dan mereka sebenarnya aman selama masih dalam area mereka sendiri.Bila Anda sempat menonton film The Village arahan sutradara M. Night Shyamalan, maka kesan yang muncul kurang lebih sama dengan film ini.

Untuk akting para pemainnya pantas dapat acungan jempol. Liev Schreiber terasa pas memerankan Zus Bielski yang sangat idealis dan kadang cenderung kelewat berapi-api , patut ditunggu juga aktingnya dalam film box office X-Men Origins: Wolverine sebagai Victor Creed/Sabretooth sementara Daniel Craig juga bermain meyakinkan untuk peran sebagai Tuvia Bielski.

Akhirnya secara keseluruhan pada intinya bukan termasuk film ringan yang bisa dijadikan hiburan ringan pelepas rasa jenuh, namun jika ingin sekedar liat Daniel Craig boleh lah, jadi tingkatannya cuma cukup untuk tontonan di rumah aja.
Akhirnya, menurut penilaian gue film ini cukup.
Sekian dulu, semoga bisa menjadi bahan pertimbangan untuk menonton.
See You Next Movies Review !!
Kalo ada komentar, dipersilahkan !!!

Monday, May 11, 2009

Review Film 13 - The Other Boleyn Girl

Review Film XIII - The Other Boleyn Girl (Natalie Portman, Eric Bana, Scarlett Johansson, Jim Sturgess, Kristin Scott Thomas)

Penilaian : 6,5/10

Nonton di Cempaka Asri XXI - Solo, tanggalnya lupa

Tag Line : The only thing that could come between these sisters... is a kingdom

Sinopsis :

Menceritakan dua kakak beradik cewek yang berasal dari keluarga yang biasa saja, yaitu Anne Boleyn (Natalie Portman - V For Vendetta, Closer) and Mary Boleyn (Scarlett Johansson - The Nanny Diaries, Lost In Translation). Sementara itu Sir Thomas Boleyn (Mark Rylance -Intimacy), ayah kedua gadis itu menginginkan kehidupan yang lebih layak. Dengan dibantu Thomas Howard : Duke of Norfolk (David Morrisey - Basic Instinct 2, Derailed) adiknya, Sir Thomas Boleyn kemudian mengatur siasat agar salah satu dari Boleyn bersaudara dapat menjadi keluarga istana. Walaupun sesungguhnya istri dari Sir Thomas Boleyn, yaitu Lady Elizabeth Boleyn (Kristin Scott Thomas - The Golden Compass, The Horse Whisperer) tidak menyetujuinya.

Sir Thomas Boleyn dibantu dengan adiknya, kemudian berusaha mengambil hati Raja Henry Tudor (Eric Bana - Troy, Hulk), dengan menyodor-nyodorkan Mary dan Anne. Mary yang semula ragu-ragu dan tidak tertarik dengan rencana ayah dan pamannya malah berhasil menjadi selir sang raja. Dari Mary, Raja Henry Tudor mendapatkan 2 orang anak. Lama kelamaan, Mary akhirnya mencintai sang raja setulus hatinya walaupun ia hanya seorang selir saja.

Sebaliknya Anne yang gagal merebut hati sang raja mulai menyusun strategi untuk menggeser Mary saudaranya. Anne bukan cuma ingin menjadi selir sang raja. Ia ingin menjadi ratu Inggris menggeser posisi istri resmi Henry VIII.

Misi Anne akhirnya menjadi kenyataan, namun disamping itu pula dia harus merasakan HUKUM KARMA dari apa yang pernah dia perbuat, bahkan adik laki-lakinya yaitu George Boleyn (Jim Sturgess - 21, Across The Universe) harus juga menerima hukuman atas kesalahan yang tidak diperbuat George.

Film ber-setting kerajaan Inggris abad 16 ini disadur dari novel karya penulis Inggris Philippa Gregory dengan judul yang sama. Walaupun film ini sudah mulai masa produksi di akhir tahun 2006, namun baru awal 2008 film ini diedarkan oleh Columbia Pictures.


Review :
Meski film ini dibuat berdasarkan kisah nyata yang terjadi di Inggris pada abad keenam belas namun tak seluruh kisah yang digambarkan di sini adalah kisah nyata. Malah bisa dibilang bahwa film ini lebih menyorot sisi pribadi dari ketiga tokoh utama ketimbang pada sisi historisnya.

Yang cukup aneh di sini adalah pemilihan para pemeran utama yang semuanya bukan orang Inggris. Natalie Portman dan Scarlett Johansson adalah artis Amerika sementara Eric Bana yang memerankan Raja Henry Tudor justru adalah aktor asal Australia. Meski tak terlalu jadi masalah, namun urusan logat mau tak mau sedikit mengganggu juga sehingga sang aktor dan aktris tak bisa sepenuhnya konsentrasi pada urusan akting.

Untungnya dalam film ini ketiga pemeran utama ini bermain dengan cukup bagus meski sebenarnya Natalie Portman yang lebih terlihat menonjol di antara para pemain yang lain. Yang patut disayangkan justru adalah jalinan emosi antara ketiga tokoh yang terlibat cinta segi tiga berlatar belakang politik yang seolah tak terbentuk dengan baik dan ditambah lagi dengan alur ceritanya yang sedikit lambat, sehingga mungkin sedikit membuat ngantuk.

Ide cerita ini mungkin terasa lebih mantap saat berbentuk novel tapi malah terasa 'kering' saat dituangkan ke bentuk film. Saat menonton film ini ada kesan seolah kita sedang menonton film serial televisi atau sinetron dan bukannya film layar lebar. Bisa jadi ini karena lebih banyaknya adegan dialog ketimbang adegan visual pada film berdurasi sekitar 115 menit ini.

Untungnya, dari sisi visual, film ini cukup menarik untuk dilihat. Efek pewarnaan terasa pas dengan kostum yang dikenakan para pemain sehingga sangat memanjakan mata saat melihatnya. Ini juga tak lepas dari penggabungan antara lokasi syuting dan studio set yang terlihat sangat alami sehingga penonton seolah dibawa ke Inggris di abad keenam belas.

Akhirnya secara keseluruhan pada intinya bukan termasuk film ringan yang bisa dijadikan hiburan ringan pelepas rasa jenuh, namun jika menyukai film dengan alur yang lambat mungkin film ini cocok untuk ditonton. ya kalau sekedar untuk ditonton di rumah, boleh lah
Akhirnya, menurut penilaian gue film ini cukup.
Sekian dulu, semoga bisa menjadi bahan pertimbangan untuk menonton.
See You Next Movies Review !!
Kalo ada komentar, dipersilahkan !!!

Wednesday, May 6, 2009

Review Film 12 - The Day The Earth Stood Still


Review Film XII - The Day The Earth Stood Still ( Keanu Reeves, Jennifer Connelly, Kathy Bates, Jaden Smith, John Cleese)

Penilaian : 6/10

Nonton di Cempaka Asri XXI - Solo, tanggalnya lupa

Tag Line : 12.12.08 is the Day the Earth Stood Still

Sinopsis :

Menceritakan seorang makhluk bernama Klaatu (Keanu Reeves - Matrix Trilogy, The Devil's Advocate) adalah makhluk luar angkasa yang mendarat di Washington DC bersama Gort, sebuah robot canggih, dengan sebuah pesawat ruang angkasa. Pada saat baru keluar dari dalam pesawat, Klaatu ditembak oleh tentara yang merasa terkejut dengan kemunculan pesawat aneh ini. Hal ini mengakibatkan Gort datang dan melelehkan senjata para tentara yang ada di sana, namun tidak ada tindakan untuk melukai seorang pun yang ada di lokasi tersebut. Ternyata, Gort memang tak pernah bermaksud melukai siapa pun. Gort hanya bermaksud melindungi Klaatu.

Klaatu kemudian dibawa oleh para tentara ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Saat berada di rumah sakit, Klaatu kemudian memutuskan untuk melarikan diri agar dapat membaur dengan penduduk planet Bumi ini.

Klaatu kemudian bertemu dengan Helen Benson (Jennifer Connelly - Blood Diamond, The Rocketeer) yang kemudian mengajak Klaatu untuk berkeliling kota. Tadinya tidak diketahui kalau Klaatu adalah makhluk dari planet lain, sehingga Helen tidak curiga namun lambat laun, Helen mulai curiga dan meminta penjelasan pada Klaatu.

Setelah ditanya demikian, Klaatu akhirnya membuka rahasia dan menyampaikan maksud kedatangannya ke Bumi. Klaatu dan Gort adalah makhluk luar angkasa yang bertugas memutuskan apakah sebuah planet harus dihancurkan atau dibiarkan tetap ada.

Remake dari film berjudul sama yang dilepas sekitar tahun 1951 ini mencoba mengusung tema yang mirip dengan War of The World, yang telah lebih dahulu diremake dengan bintang Tom Cruise dan Dakota Fanning, dengan sutradara Steven Spielberg. Untuk film ini, Scott Derrickson, sang sutradara, berusaha untuk tetap konsisten terhadap naskah asli dari film yang dulunya diadaptasi dari sebuah cerita pendek karya Harry Bates.


Review :

Dari waktu ke waktu, film dari genre fiksi ilmiah memang sering kali dijadikan sebuah 'kamuflase' untuk menyamarkan pesan moral atau politik yang sebenarnya ingin disampaikan. Dan dalam beberapa kasus, pesan tersebut memang tersampaikan dengan baik seperti pada versi original dari film ini. Di saat itu, isu mengenai perang dingin dan penghancuran umat manusia dengan nuklir memang sedang gencar-gencarnya. Dan film ini mencoba menyelipkan pesan-pesan moral ini lewat metafora yang terwujud dalam alur kisah film ini.

Yang jadi masalah pada versi tahun 2008 ini adalah bahwa isu itu sudah bergeser dan tak lagi relevan dengan kondisi saat film pertama dibuat. Konsekuensinya memang sang sutradara harus membuat sedikit penyesuaian agar tak terasa janggal. Dan anehnya di sini Scott Derrickson malah berusaha membuat film ini 'sedekat mungkin' dengan naskah film versi tahun 1951 meski sebenarnya ada beberapa detail yang mulai diubah. Hasilnya, film ini jadi terasa janggal dan tak sesuai dengan kondisi saat ini.

Untungnya, dari sisi visual film ini cukup 'LUMAYAN tentunya ini hasil dari para pakar efek visual yang berdiri di balik pembuatan film ini. Walaupun begitu, untuk menyebut efek visual yang disajikan film ini sebagai sesuatu yang benar-benar fresh mungkin agak sulit. Beberapa film sebelumnya sebenarnya juga menyajikan efek visual yang tak kalah hebatnya.

Pemilihan Keanu Reeves sebagai pemeran Klaatu memang tepat. Wajah Keanu yang memang terlihat seolah tanpa emosi rasanya pas sekali memerankan tokoh Klaatu yang sebenarnya adalah robot, walau aktingnya mungkin tidak sebaik pada saat main di film Matrix.

Dan yang paling gue suka sih sebenernya adalah Jennifer Connelly yang memerankan Helen Benson, dia mampu mempertahankan kualitas aktingnya sama seperti film-filmnya terdahulu, sperti misalanya dalam Hulk atau A Beautiful Mind. Udah cantik dan aktingnya mantap !!

Akhirnya secara keseluruhan pada intinya film ini tidak lebih bagus kalau dibandingkan dengan film sejenis. Ya cuma sampai pada tingkatan, kalau sekedar untuk ditonton di rumah, boleh lah
Akhirnya, menurut penilaian gue film ini cukup.
Sekian dulu, semoga bisa menjadi bahan pertimbangan untuk menonton.
See You Next Movies Review !!
Kalo ada komentar, dipersilahkan !!!